• Rabu, 5 Oktober 2022

Qui Scribit, Bis Legit

- Kamis, 22 September 2022 | 17:22 WIB
Silvester Joni
Silvester Joni

 Oleh: Sil Joni

 

Orang yang 'banyak membaca', belum tentu bisa menulis dengan baik. Tetapi, seorang penulis (mereka yang terbiasa menulis), pasti seorang pembaca yang tekun. Ungkapan Latin, "qui scribit, bis legit (siapa yang menulis, membaca dua kali), mempertegas kebenaran perihal korelasi antara menulis dan membaca. Poinnya adalah membaca saja tidak cukup. Setelah 'mengkonsumsi' sekian banyak literatur bermutu, maka mesti ada waktu untuk 'mengolah kembali' pelbagai ilmu dan informasi itu dalam bentuk tulisan.

Seorang penulis 'harus membaca ulang secara kritis' pelbagai ide, gagasan, konsep, data yang diperoleh dari teks bacaan (entah pustaka maupun fakta sosial). Karena itu, rasanya tepat sekali jika dikatakan bahwa menulis itu sama dengan membaca dua kali. Pikiran kita diaktifkan ketika menulis. Ide yang kita baca dari buku, dihidupkan kembali. Aneka gagasan itu tidak 'mengendap begitu saja' dalam alam bawah sadar.

Membaca adalah sebuah tradisi yang patut diapresiasi. Tetapi, membaca tanpa menulis itu pasti tidak membuahkan hasil alias mandul. Kreativitas dan produktivitas pikiran seseorang terlihat dari hasil karyanya (baca: tulisan). Seseorang yang 'gemar membaca', tetapi tidak tertarik untuk 'membagi pengetahuannya lewat tulisan', orang itu, meminjam istilah sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Tour, selevel dengan 'hewan yang pandai' saja.

Boleh jadi, dengan banyak membaca, kita semakin pandai atau fasih berbicara. Kita mempunyai stok kosakata dan pengetahuan yang melimpah. Dengan itu, kita relatif tidak mengalami kesulitan dalam mengartikulasikan pikiran secara lisan. Namun, kepandaian semacam itu hanya bersifat temporer. Publik akan 'berdecak kagum' sesaat setelah sebuah perbincangan dihelat. 

Isi atau substansi dari apa yang 'diucapkan' itu bakal lenyap bersama waktu yang berubah. Peribahasa Latin ini, 'verba volent, scripta manent', masih tetap aktual dan relevan untuk direnungkan. Bahwasannya segala yang terucap akan menguap, menghilang bersama udara. Sementara yang tertulis akan tetap ada, bersifat abadi. Dengan kata lain, kepandaian (yang terekspresi lewat ucapan) hanya dikenang sesaat.

Dengan demikian, menulis adalah tindakan 'mengawetkan' pikiran seseorang yang dipersembahkan untuk kebaikan diri dan sesama. Pramoedya menulis dengan sangat indah soal 'keunggulan' bahasa tulis daripada bahasa lisan. "Karena kau menulis...suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh di kemudian hari", tulis Pram.

Teknologi digital menyodorkan media alternatif dalam menghidupkan budaya menulis itu. Buku kertas dan media cetak memang masih menjadi media yang prestisius untuk menyalurkan bakat literasi itu. Tetapi, saya kira, menulis di media sosial dalam pelbagai platform, bisa menjadi 'opsi alternatif', jika menulis buku atau menulis di media cetak, mengalami kesulitan.

Halaman:

Editor: Robertus Endang S

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Qui Scribit, Bis Legit

Kamis, 22 September 2022 | 17:22 WIB

Neka Rabo itu Minta Maaf

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:01 WIB

Sampah dan Kondom

Sabtu, 17 Juli 2021 | 10:53 WIB

Digitalisasi Kota Menuju Kota Cerdas

Kamis, 1 Juli 2021 | 00:22 WIB

Mengapa Kita Harus Bersatu

Jumat, 26 Februari 2021 | 10:51 WIB

Bulan Refleksi Bagi Tikus Berdasi

Rabu, 3 Februari 2021 | 04:00 WIB

Pesta Demokrasi Suatu Praktek Dagelan

Selasa, 8 Desember 2020 | 11:48 WIB

Masa Tenang: Persoalan dan Solusi

Sabtu, 5 Desember 2020 | 09:08 WIB

Meretas Jalan Baru Bagi Generasi Muda Manggarai Barat

Jumat, 23 Oktober 2020 | 11:49 WIB
X